Home » Posts filed under Skripsi
Skripsi - Dalam sebuah karya tulis ilmiah yang khususnya dalam postingan memberikan beberapa judul dari berbagai jurusan yaitu Administrasi Pembangunan, Akuntansi, Hukum, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Bahasa Inggris, Ekonomi Manajemen, Fisika, Hukum Pidana, hukum Perdata, Hukum tata Negara, Ilmu Tanah, Mutimedia, kesehatan, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Eklektro, Komunikasi, Manajemen Keuangan, Pendidikan Matematika, Kimia, Biologi, bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pertanian, Peternakan, Arsitektur, Kebidanan, Psikologi, Kedokteran, dan Pendidikan Matematika,
Contoh Kesimpulan dan Saran dalam Tugas Akhir Skripsi ini diambil didalam Skripsi yang sudah di Acckan.
Kesimpulan dan saran dalam skripsi yaitu terdapat pada BAB V dimana Simpulan menyimpulkan secara garis besar apa saja isi dalam skripsi kita, sedangkan saran berupa komentar, sanggaan yang bersifat menyarankan baik kepada pemerintah, instansi dll tergantung dengan varibel yang ada dalam skripsinya. Dan untuk lebih jelas silahkan melihat contoh kesimpulan dan saran dalam karya ilmiah dibawah ini.
Kesimpulan dan Saran Dalam Skrispsi Administrasi Negara Dengan Judul:
ANALISIS KINERJA BIROKRASI PEMERINTAH (KASUS PADA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BONE)
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bone berdasarkan pendekatan proses.
- Tingkat Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dalam melaksanakan fungsi berada dalam taraf berkinerja sedang.
- Efisiensi organisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dalam mencapai fungsi pengelolaan pendidikan berada dalam taraf baik. Dilihat dari indikator waktu yang digunakan dalam pelaksanaan pelayanan dalam bidang pendidikan. Dilihat dari indikator biaya yang dipakai yang tergolong masih rendah dibanding dengan kebutuhan yang ada. Demikian pula pegawai yang dipakai untuk pelaksanaan pelayanan pembangunan pendidikan kurang memadai dibandingkan dengan kebutuhan yang diperlukan.
- Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dalam membangun kerjasama tim yang prima untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi dinas terbentuk berdasarkan atas dasar saling percaya, saling menjunjung tinggi dan saling mengisi diantara semua unsur dan lapisan dinas. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan kerjasama tim yang diciptakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bone berada dalam taraf sedang. Proses kerjasama yang terjadi dalam menciptakan kerjasama tim bersifat berdasarkan pendekatan kewenangan yang tertulis dan secara psikologis pegawai terikat dalam satu kerjasama tim (teamwork) yang utuh.
- Kinerja Dinas Pendidikan Kabupaten Bone dalam menciptakan hubungan kerja antara pimpinan dengan bawahan berada dalam taraf tinggi, yaitu melalui dukungan, pemberdayaan, partisipasi dan tanggung jawab dalam batasan kewenangan yang dimiliki. Hubungan yang terjalin diidasarkan atas kekuasaan sehingga bawahan harus tunduk kepada kewenangan yang dimiliki oleh pimpinan untuk melakukan perintah dan mengambil keputusan serta memberi sanksi.
- Faktor pendukung kinerja organisasi adalah antara lain; (1) dukungan dan kerjasama dari pegawai yang cukup solid, (2) hubungan baik vertikal maupun horizontal berjalan baik dalam tubuh organisasi sehingga tercipta suasana harmonis, (3) pembagian kerja yang cukup profesional, (4) dukungan pemerintah Kabupaten Bone yang baik, (5) partisipasi masyarakat yang cukup baik. Kinerja birokrasi mendapat hambatan utamanya: (1) alokasi anggaran untuk pengembangan pegawai relatif rendah; (2) kurangnya inisiatif dari dinas untuk menyusun program pengembangan pegawai; (3) pola pengembangan pegawai saat ini masih sangat sentralistik; (4) inisiatif pegawai untuk mengembangkan diri masih rendah; (5) jangkauan wilayah kerja dinas yang luas dibandingkan dengan jumlah pegawai yang dimiliki, sehingga mempersulit pengontrolan di wilayah-wilayah terpencil.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis merekomendasikan berupa saran-saran sebagai berikut:
Untuk meningkatkan efisiensi Dinas dalam pelayanan pendidikan perlu rasionalisasi pegawai dan penataan kembali struktur organisasi dinas yang ada sekarang yang disesuaikan berdasarkan tuntutan kebutuhan tugas dinas.
Pengelolaan organisasi birokrasi yang hanya menekankan pada pendekatan prosedur harus disempurnakan melalui perubahan visi, misi, pendekatan, strategi dan kegiatan operasional agar dapat tercipta kepuasa kerja, kerjasama tim yang prima, hubungan kerja berdasarkan pendekatan partisipasi dan kelompok kerja (teamwork) guna dapat mencapai misi organisasi yang efisiensi, efektif dan berkeadilan kearah yang lebih baik
Penelitian ini belum komprehensif, karena hanya melihat kinerja organisasi dari segi pendekatan proses, maka untuk kebutuhan penelitian berikutnya bagi yang berminat meneliti kinerja organisasi birokrasi dapat menggunakan pendekatan output, yaitu mengukur produk barang atau jasa yang dihasilkan oleh birokrasi pemerintah berdasarkan tingkat kepuasaan dan ekspektasi masyarakat yang dilayani.
Kesimpulan dan saran dalam skrispsi Akuntansi dengan Judul:
Persepsi Manajemen Badan Usaha Milik Negara/Daerah Dan Badan Usaha Milik Swasta Di Jawa Timur Terhadap Management Audit Sebagai Strategi Untuk Mencegah Dan Mendeteksi Kecurangan Pada Fungsi Pembelian.
A. Simpulan
Persepsi manajemen ditinjau dari kepemilikan perusahaan dilakukan dengan menggunakan uji U-Mann Whitney. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari kepemilikan perusahaan. Manajemen BUMN/BUMD dan manajemen BUMS memiliki persepsi yang positif dan cenderung homogen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.
Persepsi manajemen ditinjau dari level manajemen dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari level manajemen. Top management, middle management dan lower management memiliki persepsi yang positif dan cenderung homogen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.
Persepsi manajemen ditinjau dari bidang studi pendidikan dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen yang signifikan ditinjau dari bidang studi pendidikan. Responden bidang studi Psikologi/Sosiologi, Hukum/Kriminologi, Ekonomi dan lainnya memiliki persepsi yang positif dan cenderung homogen terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian.
Dengan demikian, dari hasil uji statistik diperoleh kesimpulan bahwa ditinjau dari kepemilikan perusahaan, level manajemen, maupun bidang studi pendidikan tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian. Meskipun terdapat perbedaan dilihat dari rata-rata peringkat, namun perbedaan tersebut tipis dan tidak signifikan.
B. Saran
Dalam penelitian ini, hipotesa peneliti bahwa terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS di Jawa Timur terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian di tolak. Meskipun terdapat perbedaan, jumlahnya tidak signifikan.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah waktu pengumpulan data yang singkat sehingga peneliti hanya bisa mencapai responden yang lokasinya tidak terlalu jauh. Tiga kota yang dijadikan sampel yaitu Surabaya, Gresik dan Sidoarjo memang dipilih karena peneliti menganggap bahwa kota-kota tersebut memiliki karakteristik yang bisa mewakili karakteristik perusahaan-perusahaan yang ada di Jawa Timur. Akan tetapi, untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk memperbanyak jumlah kota/kabupaten yang akan dijadikan sampel untuk meningkatkan generalisasi hasil penelitian karena banyaknya kota dan kabupaten yang termasuk dalam wilayah propinsi Jawa Timur yaitu 29 kabupaten dan 9 kota.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen berupa pertanyaan tertutup, diukur dengan menggunakan teknik skala Likert dan data yang digunakan adalah data ordinal. Peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya juga menggunakan teknik wawancara tatap muka agar bisa memperoleh jawaban yang lebih mendalam, masukan-masukan dari responden, dan agar peneliti bisa memberikan penjelasan memadai apabila terdapat pernyataan-pernyataan dalam kuesioner yang kurang dipahami oleh responden.
Meskipun tidak terdapat perbedaan persepsi manajemen BUMN/BUMD dan BUMS terhadap management audit sebagai strategi untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan pada fungsi pembelian, namun untuk pelaksanaannya ditiap perusahaan harus tetap mempertimbangkan kebutuhan dan manfaat biaya dari pelaksanaan management audit tersebut.
Kesimpulan dan saran dalam skrispsi Ekonomi Pembangunan dengan Judul:
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi Swasta di Indonesia (1980-1997)
A. Kesimpulan
Setelah melihat perbandingan serta hasil analisis dari model yang digunakan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
- Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap model investasi swasta di Indonesia, diketahui bahwa perkembangan variabel investasi publik, tingkat inflasi domestik dan variabel hutang luar negeri searah dengan perkembangan investasi swasta di Indonesia, sedangkan perkembangan variabel-variabel tingkat suku bunga domestik riil dan PDB mempunyai arah yang berlawanan. Dari hasil estimasi tersebut bahwa hutang luar negeri merupakan variabel yang paling berpengaruh.
- Koefisien regresi variabel tingkat investasi publik sebesar 0,3650 menunjukkan bahwa kenaikan variabel ini sebesar 1% akan menaikkan tingkat investasi swasta sebesar 0,3650%.
- Koefisien regresi variabel hutang luar negeri sebesar 0,4920, menunjukkan bahwa peningkatan variabel ini sebesar 1% akan meningkatkan tingkat investasi swasta sebesar 0,4920%.
- Koefisien regresi variabel tingkat inflasi domestik sebesar 0,2432 menunjukan bahwa peningkatan variabel ini sebesar 1% akan menyebabkan akan meningkatnya tingkat investasi swasta sebesar 0,2432%.
- Koefisien regresi variabel tingkat suku bunga domestik riil sebesar-0,0318, menunjukkan bahwa peningkatan variabel ini sebesar 1% akan menyebabkan menurunnya tingkat investasi swasta sebesar 0,0318%.
- Koefisien regresi variabel tingkat PDB riil sebesar
- 0,4746 menunjukkan peningkatan variabel ini sebesar 1% akan mengakibatkan turunnya tingkat investasi swasta sebesar 0,4746%.
B. Saran
Pemerintah hendaknya berusaha untuk memperhalus jalannya siklus bisnis untuk menghindari tingkat penggangguran yang kronis, stagnasi ekonomi dan inflasi serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Untuk mengontrol fluktuasi bisnis dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pemerintah dapat menerapkan instrumen-instrumen kebijakan dibidang ekonomi baik itu kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal.
Kesimpulan dan saran dalam Skrispsi Hukum dengan Judul:
Perubahan Perjanjian Kerja Terhadap Status Pekerja Waktu Tertentu Setelah Kenaikan Upah (Studi Kasus PT.Karya Bina Bersama)
A. Kesimpulan
Berdasarkan permasalahan yang diangkat oleh penulis yaitu mengenai masalah perubahan perjanjian kerja terhadap status para pekerja waktu tertentu setelah kenaikan upah, maka oleh penulis dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
- Para pekerja waktu tertentu PT.Karya Bina Bersama menuntut kenaikan upah pada pengusaha akibat harga-harga kebutuhan pokok naik yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM dan pengusaha menolak tuntutan kenaikan upah pekerja dengan alasan surat perjanjian kerja belum berakhir. Perjanjian kerja tersebut baru akan berakhir pada bulan Juni tahun 2007.
- Karena tidak terpenuhinya tuntutan tersebut di atas oleh pengusaha, maka berakibat penjualan produk-produk karet dan semangat kerja menurun. Oleh sebab itu, pengusaha menjanjikan kenaikan upah pokok sebesar 10% pada pekerja yang menyebabkan semangat kerja para pekerja meningkat dan penjualan produk-produk karet juga mengalami peningkatan. Dengan kenaikan tersebut, pengusaha memperbarui perjanjian kerja waktu tertentu pekerja sebelum berakhir masa waktu perjanjian kerjanya.
- Pembaruan perjanjian kerja tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 59 ayat (6) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi: "Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu yang lama, pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan 1 (satu) kali dan paling lama 2 (dua) tahun". Pembaruan perjanjian kerja tersebut mengakibatkan status pekerja waktu tertentu berubah menjadi pekerja waktu tidak tertentu.
B. Saran
Berdasarkan pada permasalahan yang diangkat oleh penulis yaitu mengenai perbaruan perjanjian kerja terhadap status pekerja waktu tertentu setelah kenaikan upah, maka dari itu penulis memberikan saran sebagai berikut:
Karena PT.Karya Bina Bersama tidak mempunyai lembaga seperti Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dalam perusahaanya, maka pengusaha seharusnya lebih memperhatikan para pekerjanya dan memberikan kesempatan para pekerja agar dapat menyampaikan aspirasinya agar para pekerja dapat tetap bekerja dengan semangat penuh atau membentuk Serikat Pekerja dalam perusahaanya.
Para pekerja PT.Karya Bina Bersama yang terikat perjanjian kerja waktu tertetntu banyak yang mengeluh atas penerapan perjanjian kerja tersebut karena bekerja dalam ruang lingkup pekerjaan yang tidak aman dan nyaman, takut akan diberhentikan atau tidak diperpanjang lagi masa kerjanya. Maka sara dari penulis adalah perjanjian kerja waktu tertentu tidak diberlakukan lagi dalam PT.Karya Bina Bersama agar dapat mendorong semangat kerja para pekerja.
Seharusnya PT.Karya Bina Bersama tidak membuat perjanjian kerja waktu tertentu yang baru, meskipun pengusaha menaikkan upah pokok para pekerjanya sebesar 10%. Perjanjian kerja waktu tertentu baru dapat diperbarui setelah melewati 30 (tiga puluh) hari berakhirnya perjanjian kerja yang lama.
Kesimpulan dan saran dalam Skrispsi Teknik Informatika dengan Judul:
Penyelesaian Persamaan Non-Linear Metode Biseksi dan Metode Regula Falsi Menggunakan Cara Komputasi
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan:
Telah dibuat program komputer yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan non-linear khususnya persamaan polinomial satu variabel dengan metode Biseksi. Hasil keluaran dari program yang telah dibuat berupa :
- Nilai salah satu akar pendekatan melalui beberapa iterasi sampai lebih kecil dari nilai error yang ditentukan
- Nilai error yang didapat
- Nilai fungsi dari salah satu akar pendekatan yang diperoleh.
Telah dibuat program komputer yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan non-linear khususnya persamaan polinomial satu variabel dengan metode Regula Falsi. Hasil keluaran dari program yang telah dibuat berupa :
- Nilai salah satu akar pendekatan melalui beberapa iterasi sampai lebih kecil dari nilai error yang ditentukan
- Nilai error yang didapat
- Nilai fungsi dari salah satu akar pendekatan yang diperoleh.
Dalam menyelesaikan persamaan non-linear ditinjau dari banyaknya iterasi, metode Biseksi lebih cepat dari metode Regula Falsi. Ini ditunjukan dengan melihat selisih rata-rata akar pendekatan dengan rata-rata akar pada iterasi ke n metode Biseksi yang selalu lebih kecil dari selisih rata-rata akar pendekatan dengan rata-rata akar pada iterasi ke n metode regula Falsi.
B. Saran
Setelah dilakukan penelitian ini, disarankan :
- Program yang telah dibuat dapat dimodifikasi supaya dapat menyelesaikan persamaan non-linear yang berupa persamaan eksponensial, persamaan logaritmik, persamaan sinusoida atau persamaan non-linear yang lain.
- Penulisan kode program bisa dilakukan dalam bahasa pemrograman komputer yang lain yang lebih bagus dalam hal grafik dan tingkat kemampuan pengoperasian digit angka.
Kesimpulan dan saran dalam Skrispsi Pendidikan Matematika dengan Judul:
Penerapan Metode Latihan Terbimbing Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas I Smp Negeri I Taliwang Sumbawa Barat Pada Pokok Bahasan Segitiga Tahun Pelajaran 2005/2006
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan pendapat bahwa metode latihan terbimbing dapat menuntaskan belajar siswa Kelas I5 SMP Negeri I Taliwang pada pokok bahasan segitiga Tahun pelajaran 2005/2006. Ketuntasan ini didapat dari persentase ketuntasan yang diperoleh siswa pada Siklus I sebesar 83,87%, pada Siklus II sebesar 87,10%, dan pada Siklus III sebesar 96,77%. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan dan tercapainya ketuntasan belajar yang diharapkan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:
- Diharapkan sebelum kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode latihan dilaksanakan, hendaknya guru memperhatikan dan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari metode latihan tersebut.
- Siswa yang ingin meningkatkan prestasi belajar matematikanya, hendaknya lebih banyak menyelesaikan soal-soal latihan.
Bisa dilihat postingan diatas berbagai contoh Contoh Kesimpulan dan saran Tugas Akhir, ada yang menggunakan Number/Bullets ada juga yang menguraikannya dalam paragraf. Intinya ketika Kesimpulan dan saran itu lebih dari satu poin maka sebaiknya menggunakan nomor atau bullets untuk menandakan bahwa lebih dari 1 akan tetapi kesimpulan dan sarannya hanya satu saja maka jangan ditandai dengan nomor/bullets.
Contoh Kesimpulan dan Saran dalam Skripsi Karya Tulis Ilmiah atau biasa sahabat semua menyebutnya sebagai tugas akhir Administrasi Pembangunan, Akuntansi, Ekonomi Pembangunan, Hukum, Teknik Informatika dan Pendidikan Matematika, Administrasi Negara, Administrasi Niaga, Bahasa Inggris, Ekonomi Manajemen, Fisika, Hukum Pidana, hukum Perdata, Hukum tata Negara, Ilmu Tanah, Mutimedia, kesehatan, Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Industri, Teknik Eklektro, Komunikasi, Manajemen Keuangan, Pendidikan Matematika, Kimia, Biologi, bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pertanian, Peternakan, Arsitektur, Kebidanan, Psikologi, Kedokteran, Oh iya dalam penggunaan Kesimpulan dan Simpulan kalau menurut saya penggunaannya yang tepat adalah kata SIMPULAN bukan Kesimpulan. tapi tidak bisa disalahkan juga yang menggunakan kesimpulan nanti kembali pada dosen pembimbing sobat semua. Ok dah Semoga bermanfaat.
Paul Siregar
Juli 31, 2019
CB Blogger
Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pemerintah merumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama yaitu :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003).
Jadi jelaslah pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan harus diselengggarakan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan UU No 20/ 2003. Menurut UU RI No 20/ 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional jenis dari pendidikan menengah salah satunya adalah sekolah menengah kejuruan (SMK). Penjelasan pasal 15 menjelaskan bahwa “ Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta diklat terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu”.
Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang dalam mengembangkan kepribadiannya serta mengubah tingkahlakunya dilihat dari pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Keberhasilan proses belajar dan mengajar merupakan bagian dari kegiatan yang cukup memegang peranan penting dalam proses pendidikan. Karena berhasil atau tidaknya proses pendidikan tergantung pada keberhasilan dari proses belajar mengajarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar dapat digolongkan menjadi dua faktor antara lain faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu faktor yang menyangkut diri pribadi, termasuk fisik maupun mental atau psikofisiknya yang ikut menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang bersumber dari luar individu yang bersangkutan seperti ruang belajar, alat pelajaran, lingkungan sosial maupun lingkungan ilmiah (Dewa Ketut Sukardi, 1983:30).
Suasana lingkungan eksternal menyangkut banyak hal antara lain cuaca (suhu udara, mendung, hujan, kelembaban), waktu (pagi, siang, sore, petang, malam), kondisi tempat (kebersihan, letak sekolah, pengaturan fisik kelas, ketenangan, kegaduhan), penerangan (berlampu, bersinar matahari, gelap, remang-remang) dan sebagainya. Faktor ini mempengaruhi sikap dan reaksi individu dalam aktifitas belajarnya, sebab individuyang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya (Wasty Soemanto, 1984: 109-110).
Pendapat lain menyatakan bahwa disamping kondisi individu baik fisik maupun mental, kondisi lingkungan turut berpengaruhterhadap hasil belajar seperti suasana belajar yang berantakan, suasana bising, faktor cahaya atau penerangan. Itulah sebabnya kondisi lingkungan ini harus diciptakan sedemikian rupa sehingga memungkinkan seseorang belajar secaralebih baik. (Mohamad Ali, 1982: 8).
Keadaan fasilitas fisik tempat proses belajar yang baik lebih memungkinkan murid belajar dengan tenang dan teratur. Sebaliknya dengan keadaan lingkungan fisik yang kurang memadai dapat mengurangi efisiensi hasil belajar.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang didalamnya terjadi interaksi siswa dan lingkungannya. Lingkungan tersebut harus dikondisikan sedemikian rupa yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, metodologi pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Keempat unsur tersebut dikenal sebagai konsep pembelajaran.
Pada dasarnya keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari luar dan faktor dari dalam dirinya. Faktor dari luar diantaranya lingkungan dan sarana penunjang pendidikan (M. Surya, 1985: 15).
Salah satu sarana penunjang yang khusus berada di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan diantaranya adalah ruang laboratorium resep yaitu suatu tempat atau ruangan yang dikhususkan untuk praktek meracik obat serta segala kegiatannya.
Ruang laboratorium resep Farmasi SMK YPIB Subang tidak hanya digunakan sebagai ruang praktik resep, tetapi juga digunakan sebagai ruang teori untuk responsi sehingga seringkali menjadi tidak efektif dalam pembelajaran.
Oleh sebab itu , siswa tidak mesrasa nyaman dan kurang efktif etika melaksanakan pembelajaran proses belajar mengajar di laboratorium reseb.
Dengan mengacau pada latar belakang tersebut diatas penusis merasa perlu untuk melakukan penelitian tentang pendapat/persepi siswa mengenai dari kondisi ruang laboratorium resep SMK YPIB Subang dengan tujuan untuk memenuhi seberapa besar kontribusi yang ada dari kondisi laboratorium resep. Maka pada kesempatan ini penulis akan mendapatkan penelitian dengan judul "Kontribusi Kondisi Ruang Laboratorium Resep Terhadap Proses Belaja Mengajar di SMK YPIB Subung".
1.2 Indentifikasi Malsalah.
Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan di atasa, maka penulis mengindifikasikan masalah sebagai berikut :
- Kondisi rang laboratorium resep kurang mendukung kegiatan siswa dalma melaksanakan aktifitas belajar.
- Kondisi ruang laboratorium resep kurang efektif bila digunakan sebagai ruang untuk menerima materi berupa pelajaran teori.
- Aktifitas belajar yang tejadi di ruang laboratoriu resep kurang belajar dengan tertib dan tertaur.
1.3 Pembatasan dan Perumusan Masalah
1.3.1 Pembatasan Masalah
Masalah Wiranto Surakmad (1990:113) .... pembatasa masalah diperlukan bukan saja untuk memudahkan atau menyederhanakan masalah bagi para penyidik, tetapi tetapi untuk mendekatkan lebih dahulu segala sesuatu yang diperlukan untuk mencurahkan tenaga, kecekatan, waktu, ongkos dan lain-lain yang timbul dari rencana tertentu.
Supaya dalam penelitian ini lebih teratur serta sesuai dengan tujuan penelitian, maka penulis memberikan batasan pemasalahan sebagai berikut :
- Pendapat siswa kelas XI (sebelas) mengenai kondisi ruang pada laboratorium resep dalam penelitian ini di tinjau dari segi penataan ruang meliputi dimensi (ukuran), peralatan, perabot, dan sirkulasi pada ruang.
- Proses belajar mengajar dalam penelitian ini adalah aktifitas yang terjadi pada mata pelajaran ilmu resep I di ruang laboratorium resep yang menggunakan meja lab resep.
1.3.2 Perumusan Malasah
Adapun perumusan maalah penulis dalm penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Bagaimana kondisi ruang laboratorium resep di SMK YPIB Subung?
- Bagaimana proses belajar mengajar yang terjadi di ruang laboratorium resep SMK YPIB Subu?
- Berapa besar kontribusi kondisi ruang laboratorium resep terhadp proses belajar mengajar di SMK YPIB SSubung?
1.4 Penjelasan Istilah Dalam Judul
Dibawah ini akan di uraikan pengertian dan istilah dalam judul diatas, yaitu :
- Kontribusi - Kontribusi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sumbangan yang berasal dari bahasa inggris "Contribution" yang memiliki arti tunjangan S. Wojowasito, 1982:84).
- Kondisi Ruang Laboratorium Resep - Kondisi ruang laboratorium resep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan objektif atau yang sebenarnya dari ruang itu sendiri dilihat dari penataan ruang yang meliputi aspek dimensi (ukuran), peralatan, perabot, dan sirkulasi pada ruang.
- Proses Belajar Mengajar - Proses belajar yang dimaksud disini adalah khusus pada mata pelajaran teori ilmu resep yaitu aktifitas belajar mengajar yang didalamnya terjadi interaksi antara siswa, guru dengan lingkungannya.
1.5 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang diharapkan oleh penulis dalam penelitian ini adalah :
- Memperoleh gambaran yang sebenarnya mengenai kondisi ruang laboratorium resep di SMK YPIB Subung dilihat dari pendapat siswa.
- Memperoleh gambarn mengenai proses belajar mengajar yang terjadi di dalam ruang laboratorium resep SMK YPIB Subung.
- Memperoleh gambaran tentang beberapa besar kontibusi kondisi ruang laboratorium resep terhadap proses belajar mengajar di SMK YPIB Subung.
1.6 Manfaat Penelitian.
Kegunaan dari penelitian ini adalah :
- Memberikan kontribusi bagi skolah dalam usaha meningkatkan kualitas ruang laboratorium resep yang dapat mendukung kegiatan proses belajar mengajar sehingga terciptanya kualitas pendidikan di sekolah.
- Memberikan kontribusi dalam usaha meningkatkan kualitas belajar mengajar di ruang resep laboratorium resep.
Perencanan strategis yang muncul pertama kali pada 1960-an, dipelopori oleh Frederick Taylor, merupakan suatu metode terbaik untuk menciptakan dan mengimplementasikan strategi-strategi dengan memisahkan antara konsep dan pelaksanaan dengan cara menerapkan prosedur tahap demi tahap sehingga pelaku bisnis tidak akan melakukan tindakan yang salah. Akan tetapi sekarang ini perencanaan strategis telah mulai keluar dari konsep awalnya karena banyak yang berpendapat bahwa yang diperlukan adalah berpikir strategis bukan perencanaan strategis. Akibatnya sering timbul kekacauan berpikir dalam menyusun perencanaan strategis.
Perencanaan strategis akan gagal dibuat jika tidak mendapat dukungan dari manajer tingkat atas. Itu dapat terjadi karena manajer tingkat atas berpendapat bahwa perencanaan strategis hanya akan memperlemah komitmen mereka serta cenderung menciptakan iklim yang tidak sesuai dengan pelaksanaannya. Mengapa? Karena ia merupakan model yang penuh perhitungan, bukan model yang penuh dengan komitmen.
Manajer yang menganut model manajemen komitmen beranggapan bahwa setiap orang di dalam proses tersebut membantu membentuk pola kegiatan, akibatnya, selalu memiliki semangat kerja. Sedangkan model manajemen perhitungan selalu terpaku pada tujuan dan menghitung apa yang harus dikerjakan agar sampai pada tujuan tanpa memperdulikan apa yang diinginkan oleh para anggota. Ahli sosiologi Philip Selznick (Riset Strategi Perusahaan: Husein Umar, 1999: h-12) mengatakan bahwa strategi yang baik adalah strategi yang memuat nilai-nilai para anggotanya sehingga mereka merasa terikat dengan tujuan perusahaan dan dapat menjadi dorongan semangat secara terus-menerus bagi anggotanya.
Jika para manajer masih beranggapan bahwa lingkungan masa depan tidak akan jauh berbeda dengan lingkungan masa kini, apalagi bila lingkungan usaha mereka relatif stabil, maka ketika liberalisasi perdagangan internasional tiba atau globalisasi tiba, kerumitan dalam bisnispun tiba. Akibatnya, mau tidak mau konsentrasi kerja manajemen dari hal-hal yang taktis akan bergeser pada hal-hal yang sifatnya strategist sehingga penyerahan wewenang kepada bawahan menjadi hal yang umum terjadi. Semakin cepat tingkat perubahan, semakin sering isu strategis yang harus dikeluarkan.
Semakin cepat lingkungan berubah, manajemen semakin harus melihat keluar. Hal-hal yang khusus perlu antisipasi misalnya : kepedulian terhadap lingkungan dimana perusahaan heroperasi, antisipasi terhadap perubahan dalam lingkungan itu dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan itu.
Dan kebanyakan organisasi sekarang mengakui pentingnya perencanaan strategi untuk perkembangan jangka panjang dan kesehatan jangka panjang. Terlebih setelah dihantam badai krisis ekonomi dan krisis moneter pada pertengahan 1997. Banyak para CEO telah membuktikan, bahwa dengan menentukan strategi organisasinya secara khusus, mereka dapat mengarahkan dengan lebih efektif dan menjadi lebih tanggap terhadap perubahan lingkungan.
Untuk memahami pengertian manajemen strategi, terlebih dahulu harus dapat dimengerti apakah strategi itu. Kata strategi berasal dari Yunani, yaitu stratogos yang berarti jenderal. Strategi berarti seni para jenderal. Maka strategi kalau diartikan dari sudut militer adalah cara menempatkan pasukan atau menyusun kekuatan tentara di medan perang agar musuh dapat dikalahkan.
Setiap organisasi, baik yang bersifat mencari laba maupun tidak, selalu memiliki strategi dalam usaha mencapai tujuannya. Strategi tersebut belum tentu dinyatakan secara eksplisit dan formal karena alasan kerahasiaan. Kata strategi sendiri sering menimbulkan kerancuan arti.
Pada dekade tahun 60-an mulai dikemukakan konsep strategi oleh dua orang yang berlatar belakang berbeda, yaitu Igor Ansoff dan Kenneth Andrews. Pengertian strategi menurut Andrews strategi hanya mencakup suatu tujuan dan cara-cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut, yang dikenal sebagai "Broad Concep of Strategy."
Menurut Ansoff, strategi hanya hanya mencakup cara-cara mencapai tujuan, dikenal sebagai "Narrow concept of Strategy". Andrews dan Ansoff juga membedakan apakah narrow concept mempunyai komponen-komponen strategi. Sehingga perbedaannya, penetapan tujuan mempunyai bagian dari pembentukan strategi (pandangan Andrews) atau merupakan proses yang terpisah (menurut Ansoff). (Organisasi: Gibson, Ivancevich: 1996:h-54)
Jelaslah kiranya, diantara keduanya tersebut tidak ada kesepakatan atau kesatuan pandangan mengenai pengertian dari konsep strategi. Namun kesukaran tersebut tidak menjadikan usaha-usaha mencari definisi yang diterima umum, menjadi berhenti, melainkan muncul berbagai definisi lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa kesukaran dalam mendefinisikan strategi disebabkan banyaknya definisi yang berlainan secara mendasar. Penyebabnya adalah konsepsi tentang hakekat strategi yang dimiliki orang tersebut berlainan pula,tergantung dari pendidikan dan pengalamannya mereka.
Menurut William F. Glueck - Lawrence R. Jauch, (Manajemen strategi & Kebijakan Perusahaan; H.Djaslim Saladin; 1999; h-1) yang diartikan strategi adalah : "Sebuah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi, yang menghubungkan keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan itu dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi ".
Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa strategi perusahaan adalah suatu kesatuan rencana yang menyeluruh, komprehensif, dan terpadu yang diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Ada beberapa hal yang dapat ditarik kesimpulan dari pengertian strategi diatas, yaitu:
a. Adanya suatu rencana tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan bukan hanya tujuan jangka pendek, akan tetapi juga jangka menengah dan juga jangka panjang.
b. Untuk menyusun suatu strategi, diperlukan analisis terhadap lingkungan baik lingkungan eksternal maupun lingkungan internal, yaitu peluang dan ancaman maupun kekuatan dan kelemahan perusahaan. Hal ini penting untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi.
c. Perlunya suatu keputusan pilihan dan pelaksanaan yang tepat dan terarah guna mencapai tujuan perusahaan.
d. Strategi dirancang untuk menjamin agar tujuan dan sasaran dapat dicapai melalui langkah-langkah yang tepat.
* Gregory G. Dess - Alex Miller, (Manajemen strategi & Kebijakan Perusahaan: H.Djaslim Saladin: 1999: h-2) membagi strategi dalam 2 gaya yaitu strategi yang dikehendaki dan strategi yang direalisasikan.
1. Strategi yang dikehendaki (Intended strategic) terdiri dari 3 elemen, yaitu sasaran-sasaran (goals), kebijakan (policies), dan rencana-rencana (plans).
* Sasaran-sasaran: apa yang ingin dicapai organisasi / perusahaan. Sasaran itu mempunyai arti yang luas dan sempit. Selanjutnya Gregory G. Dess, membagi hirarki atau tingkatan dari sasaran tersebut menjadi :
a. Visi (vision) : apa yang akan dilakukan organisasi / perusahaan. Visi merupakan kerangka acuan dan perspektif sebagai suatu kesatuan yang tercermin dalam kegiatan nyata.
b. Misi (mission) : banyaknya batasan sasaran yang akan dicapai. Misi merupakan tugas dan prinsip pokok dalam mewujudkan visi.
c. Tujuan-tujuan (objectives) : tujuan yang lebih spesifik yang ingin dicapai.
* Kebijakan : Merupakan garis pedoman untuk bertindak, bagaimana sebuah organisasi mencapai sasaran-sasaran tersebut.
* Rencana-rencana : suatu pernyataan dari tindakan seorang manajer organisasi terhadap apa yang diharapkan akan terjadi. Secara ideal berarti kita harus mencari suatu keputusan akhir.
2. Strategi yang direalisasikan (realized strategic) : Menunjukkan apa yang dicapai atau apa yang telah diwujudkan.
Strategi yang original itu sering mengalami perubahan dalam keseluruhan implementasinya, sesuai dengan peluang dan ancaman yang dihadapi. Strategi yang sebenarnya / terwujudkan selalu lebih banyak atau lebih sedikit daripada strategi yang dikehendaki. Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap lagi, elemen strategi induk itu secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
a. Visi (d). Sasaran-sasaran (b). Misi (e). Strategi (c). Kebijakan (f). Tujuan
Sedangkan untuk manajemen strategi, ada beberapa definisi mengenai arti manajemen strategi. Tergantung pada pendapat para ahli itu sendiri. Berikut pendapat beberapa ahli mengenai Manajemen strategi :
* Menurut Thomas L. Wheelen - J. David Hunger:
“Anajemen strategi adalah serangkaian daripada keputusan manajerial dan kegiatan-kegiatan yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang, kegiatan tersebut terdiri dari perumusan / perencanaan strategi, pelaksanaan / implementasi, dan vuluasi “.
* Menurut Gregory G. Dess - Alex Miller:
“Manajemen strategi adalah suatu proses kombinasi antara tiga aktivitas, yaitu analisis strategi perumusan strategi dan implementasi strategi”.
* Menurut Charles W. L. Hill - Gareth R. Jones:
"Manajemen strategi adalah individu-individu yang bertanggung jawab secara keseluruhan dari pada organisasi atau bertanggung-jawab merumuskan satu tugas utama dari divisi-divisi”.
Jadi manajemen strategi pada intinya adalah memilih alternatif strategi yang terbaik bagi organisasi/ perusahaan dalam segala hal untuk mendukung gerak usaha perusahaan. Dan perusahaan harus melaksanakan manajemen strategi secara terus menerus dan harus fleksibel sesuai dengan kondisi di lapangan.
Sedangkan menurut Husein Umar, manajemen strategi adalah suatu seni dan ilmu dalam hal pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategis antara fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuannya di masa datang (Riset Strategi Perusahaan; Husein Umar, 1999: h-86).
Paul Siregar
April 01, 2016
CB Blogger
Indonesia
Manajemen Keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh sumber modal yang semurah-murahnya dan menggunakannya se-efektif, se-efisien, seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba. Aktivitas itu meliputi :
1. AKTIVITAS PEMBIAYAAN ( FinancingActivity )
Aktivitas pembiayaan ialah kegiatan pemilik dan manajemen perusahaan untuk mencari sumber modal ( sumber eksternal dan internal ) untuk membiayai kegiatan bisnis.
A.Sumber eksternal
a. .Modal Pemilik atau modal sendiri (Owner Capital atau Owner Equity). Atau modal saham (Capital Stock ) yang terdiri dari :
Saham Istimewa (Preferred Stock) dan Saham Biasa (Common Stock).
Saham Istimewa (Preferred Stock) dan Saham Biasa (Common Stock).
b. Utang (Debt), Utang Jangka Pendek (Short-term Debt) dan Utang Jangka Panjang (Long-term Debt).
c. Lain-lain, misalnya hibah.
B. Sumber Internal :
1. Laba Ditahan (Retained Earning)
2. Penyusutan, amortisasi, dan Deplesi ( Depreciation, Amortization, dan Deplention)
3. Lain-lain, misalnya penjualan harta tetap yang tidak produktif.
2. AKTIVA INVESTASI (Investment activity)
aktivitas investasi adalah kegiatan penggunaan dana berdasarkan pemikiran hasil yang sebesar-besarnya dan resiko yang sekecil-kecilnya. Aktivitas itu meliputi :
1. Modal Kerja (working Capital) atau harta lancar (Current Assets)
2. Harta Keuangan (Finaceal assets) yang terdiri : investasi pada saham (stock) dan Obligasi (Bond)
3. Harta Tetap (real Assets) yang terdiri dari : Tanah,gedung, Peralatan.
4. Harta Tidak Berwujud (intangible assets) terdiri dari : Hak Paten, Hak Pengelolaan Hutan, Hak Pengelolaan Tambang, Goodwill.
3. AKTIFITAS BISNIN (Business Activity)
Aktivitas bisnis adalah kegiatan untuk mencari laba melalui efektivitas penjualan barang atau jasa efisiensi biaya yang akan mengahsilkan laba. Aktivitas itu dapat dilihat dari laporan Laba-Rugi, yang terdiri dari unsur :
1. Pendapatan (sales atau Revenue)
2. Beban ( Expenses)
3. Laba-Rugi ( Profit-Loss)
Paul Siregar
April 01, 2016
CB Blogger
Indonesia
Skripsi terdiri atas : Bagian Awal, Bagian Utama, dan Bagian akhir.
A. Bagian Awal
Bagian awal mencakup halaman sampul depan, halaman judul, halaman pengesahan, prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran, arti lambang dan singkatan, dan intisari (abstrak). Untuk sampul depan kita memakai style untuk format halaman sampul, yaitu dengan menekan f11 atau menuju menu format lalu style and formating.
Untuk membuat style halaman baru caranya dengan klik kanan pada window style and formating-New
Lalu kita dapat mengedit style yang kita inginkan dari mulai mengatur margin, line spacing, paper format, header, footer, border, columns, footnote dengan menggunakan windows page style.
Untuk skripsi kita menggunakan kertas A4 dengan margin kiri= 4cm, kanan= 3cm, atas= 4cm, bawah=3cm. Untuk halaman bagian awal, penomoran halaman diletakkan di bagian paling bawah halaman (footer) dengan format 'i', 'ii', dan seterusnya. Cara membuat footer yaitu dengan membuat page style baru/memodif halaman uang sudah ada, klik kanan – new – name:bagian awal – footer – footer on.
1. Halaman sampul depan
Untuk halaman sampul depan memuat judul skripsi, nama dan Nomor mahasiswa, lambang Universitas Gadjah Mada, nama dan alamat instansi yang dituju dan tahun penyelesaian skripsi.
- Judul skripsi dibuat sesingkat-singkatnya, jelas dan menunjukkan dengan tepat masalah yang hendak diteliti dan tidak membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam. Diketik di bagian paling atas pada halaman sampul depan, dengan align center.
- Nama mahasiswa ditulis lengkap, tidak boleh disingkat. Di bawah nama dicantumkan Nomor mahasiswa. Diketik di bawah logo.
- Lambang Universitas Gadjah Mada berbentuk bundar (bukan segi lima) dengan diameter sekitar 5,5 cm. Diletakkan di antara judul dan nama mahasiswa. Cara memasukkan logo (gambar) yaitu insert- pictures-from file.
Instansi yang dituju ialah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Yogyakarta.
- Tahun Penyelesaian skripsi ialah tahun ujian skripsi terakhir dan ditempatkan dibawah Yogyakarta.
2. Halaman judul
Halaman judul berisi tulisan yang sama dengan halaman sampul depan, diketik di atas kertas putih, dengan tambahan beberapa hal yaitu : Di atas lambang ditulis penjelasan bahwa maksud skripsi yaitu sebagai salah satu syarat untuk memperoleh derajat Sarjana S1 program studi.... pada jurusan MATEMATIKA/FISIKA/KIMIA.
3. Halaman pengesahan Halaman ini memuat tanda tangan para Pembimbing dan para Penguji, dan tanggal ujian. Contoh halaman pengesahan terdapat pada.
4. Prakata Prakata memuat pesan yang ingin disampaikan oleh penulis skripsi misalnya berupa ucapan terima kasih kepada para pembimbing dan segala pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi tersebut. Dalam prakata tidak perlu diungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah. Prakata ditutup dengan tanggal dan tanda tangan penulis skripsi.
5. Daftar isi Daftar isi dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang isi skripsi dan sebagai petunjuk bagi pembaca yang ingin langsung melihat suatu judul atau sub judul. Di dalam daftar isi tertera urutan judul, sub judul, dan anak sub judul disertai dengan Nomor halamannya. Cara membuat daftar isi, insert – indexes and tables – indexes and table.

Untuk memperbaharui daftar isi karena kita telah menambah halaman, klik kanan (pada daftar isi tersebut) – update.
6. Daftar Gambar
Daftar gambar berisi index dari gambar-gambar yang kita tunjukkan dalam skripsi, yang bertujuan memudahkan pembaca dalam mencari gambar yang diinginkan. Cara membuatnya tidak jauh bebeda dengan memasukkan daftar isi, akan tetapi memiliki perbedaan dalam tipe index, yaitu ilustration index.

7. Daftar Tabel Sama dengan memasukkan index gambar, akan tetapi tipe index yang digunakan adalah index of table.
B. Bagian Isi
1. Jenis huruf
- Naskah laporan diketik dengan huruf pica (10 huruf dalam 1 inci), dan untuk seluruh naskah harus dipakai jenis yang sama.
- Huruf miring atau huruf khusus lain dapat dipakai untuk tujuan tertentu, misalnya untuk menandai istilah asing. Cara mencetak miring dengan menggunakan attribute italic, dengan mengklik icon 'I atau Ctrl + I.
- Tanda-tanda yang tidak dapat diketik, harus ditulis dengan rapi memakai tinta hitam.
2. Jarak baris
Jarak antara 2 baris dibuat 2 spasi, kecuali untuk intisari, kutipan langsung, judul tabel, judul gambar, dan daftar pustaka diketik dengan jarak 1 spasi. Rumus diketik dengan jarak spasi sesuai dengan kebutuhan. Cara mengedit line spacing bisa melalui windows Style and Formating, atau dengan menu Format – Paragraph – Line Spacing.
3. Alinea baru
Alinea baru dimulai pada ketikan yang ke-6 dari batas tepi kiri ketikan. Caranya dengan menarik segitiga terbalik yang ada pada ruler, ke posisi 6 ketikan.
Pada bagian terdahulu telah disebutkan bahwa pendidikan karakter bergerak dari knowing menuju doing atau acting. William Kilpatrick menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing). Berangkat dari pemikiran ini maka kesuksesan pendidikan karakter sangat bergantung pada ada tidaknya knowing, loving, dan doing atau acting dalam penyelenggaraan pendidikan karakter.
Moral Knowing sebagai aspek pertama memiliki enam unsur, yaitu kesadaran moral (moral awareness), yaitu kesediaan seseorang untuk menerima secara cerdas sesuatu yang seharusnya dilakukan. pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), yaitu mencakup pemahaman mengneai macam-macam nilai moral seperti menghormati hak hidup, kebebasan, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, tenggang rasa, kesopanan dan kedisiplinan. penentuan sudut pandang (perspective taking), yaitu kemampuan menggunakan cara pandang orang lain dalam melihat sesuatu. logika moral (moral reasoning), adalah kemampuan individu untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengapa sesuatu dikatakan baik atau buruk. keberanian mengambil menentukan sikap (decision making), yaitu kemampuan individu untuk memilih alternatif yang paling baik dari sekian banyak pilihan. dan pengenalan diri (self knowledge), yaitu kemampan individu untuk menilai diri sendiri. Keenam unsur adalah komponen-komponen yang harus diajarkan untuk mengisi ranah kognitif mereka.
Selanjutnya Moral Loving atau Moral Feeling merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentukbentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, percaya diri (self esteem), kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), kerendahan hati (humility).
Kata hati memiliki dua sisi yaitu mengetahui apa yang baik, dan rasa wajib untuk mengerjakan yang baik itu. Penghargaan diri adalah penilaian serta penghargaan terhadap diri kita sendiri. Empati adalah penempatan diri kita pada posisi orang lain yang merupakan aspek emosional dari “prespective taking”. Cinta kebaikan merupakan unsur karakter yang paling tinggi yang mencakup kemurnian rasa tertarik pada hal yang baik. Pengendalian diri adalah kesadaran dan kesediaan untuk menekan perasaannya sendiri agar tidak melahirkan perilaku yang melebihi kewajaran. Sedang “humanity” merupakan aspek emosi dari “selfknowledge” yang berbentuk keterbukaan yang murni terhadap kebenaran dan kemampuan untu bertindak mengoreksi kesalahan sendiri.
Setelah dua aspek tadi terwujud, maka Perilaku moral (Moral Acting) sebagai outcome akan dengan mudah muncul baik berupa competence, will, maupun habits.
Perilaku moral adalah hasil nyata dari penerapan pengetahuan dan perasaan moral. Orang yang memiliki kualitas kecerdasan dan perasaan moral yang baik akan kecenderungan menunjukkan perilaku moral yang baik pula. Kemampuan moral adalah kebiasaan untuk mewujudkan pengetahuan dan perasaan moral dalam bentuk perilaku nyata. Kemauan moral adalah mobilisasi energi atau daya dan tenaga untuk dapat melahirkan tindakan atau erilaku moral. Sedangkan kebiasaan moral adalah pengulangan secara sadar perwujudan pengetahuan dan perasaan moral dalam bentuk perlaku moral yang terus menerus.
Interelasi antara moral knowing, moral feeling dan moral doing, digambarkan oleh Lickona sebagai berikut:
Namun, merujuk kepada tesis Ratna Megawangi bahwa karakter adalah tabiat yang langsung disetir dari otak, maka ketiga tahapan tadi perlu disuguhkan kepada siswa melalui cara-cara yang logis, rasional dan demokratis. Sehingga perilaku yang muncul benar-benar sebuah karakter bukan topeng. Berkaitan dengan hal ini, perkembangan pendidikan karakter di Amerika Serikat telah sampai pada ikhtiar ini. Dalam sebuah situs nasional karakter pendidikan di Amerika bahkan disiapkan lesson plan untuk tiap bentuk karakter yang telah dirumuskan dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah.
Identifikasi Karakter
Pendidikan karakter tanpa identifikasi karakter hanya akan menjadi sebuah perjalanan tanpa akhir, petualangan tanpa peta. Organisasi manapun di dunia ini yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan karakter selalu – dan seharusnya- mampu mengidentifikasi karakter-karakter dasar yang akan menjadi pilar perilaku individu. Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut adalah;
- cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya,
- tanggung jawab, disiplin dan mandiri,
- jujur,
- hormat dan santun,
- kasih sayang, peduli, dan kerja sama,
- percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah,
- keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan
- toleransi, cinta damai dan persatuan
Sementara Character CountsdiAmerikamengidentfikasikan bahwa karakter-karakter yang menjadi pilar adalah;
- dapat dipercaya (trustworthiness),
- rasa hormat dan perhatian (respect),
- tanggung jawab (responsibility),
- jujur (fairness),
- peduli (caring),
- kewarganegaraan (citizenship),
- ketulusan (honesty), berani (courage),
- tekun (diligence) dan
- integritas
Kemudian Ari Ginanjar Agustian dengan teori ESQ menyodorkan pemikiran bahwa setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk kepada sifat-sifat mulia Allah, yaitu al-Asmâ al-Husnâ. Sifat-sifat dan nama-nama mulia Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang dirumuskan oleh siapapun. Dari sekian banyak karakter yang bisa diteladani dari nama-nama Allah itu, Ari merangkumnya dalam 7 karakter dasar, yaitu jujur, tanggung jawab, disiplin, visioner, adil, peduli, dan kerja sama.
Begitu pula Covey menawarkan 8 kebiasaan dalam mengambangkan karakter, yakni: habit-1, Vision atau bersikap proaktif (principles of personal), habit-2, memulai dengan akhir dalam pikiran (principles of personal Leadershif), habit-3, mendahulukan yang Utama (Principles of Personal Management), habit-4, berpikir menangmenang (principles of interpersonal Leadership), habit-5, berusaha mengerti terlebih dahulu (Pathos) sebelum dimengerti (logos), (Principles of Emphathetic Communication), habit-7, kebiasaa pembauran diri (Principles of Balanced Self-Renewal), Habit-8, Menggali dan menemukan potensi diri serta memberikan inspirasi kepada orang lain untuk menemukan potensinya.
Begitu pula dengan pendidikan karakter yang dilakukan oleh Universitas Negeri Jakarta mengidentifikasi karakter yang akan di bangun dalam civitas akademika berupa 7 Kebiasaan, yaitu: 1) Kejujuran (fairness) ; 2) terbuka; 3) Disiplin; 4) Komitmen; 5) tanggung Jawab (responsibility); 6) Menghargai/menghormati; 7) Berbagi (caring)
Pembiasaan pertama, adalah kejujuran. Kejujuran adalah kemampuan seseorang untuk menyatakan sesuatu yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Kejujuran merupakan barang yang sangat mahal harganya dewasa ini pada bangsa kita, karena apabila kita melihat kondisi bangsa ini, konsep kejujuran ini seolah sirna, kita bisa melihat bagaimana tindakan para koruptor dari pemerintahan tingkat atas hingga pemerintahan di tingkat RT/RW seolah sangat sulit untuk dihentikan. Begitupun ketidak jujuran di lingkungan civitas akademika. Banyak mahasiswa bahwak dosen yang melakukan plagiasi atau mencontek ketika ujian. Adapun pembiasaan yang dilakukan adalah dengan stop mencontek, stop plagiasi. Stop berbohong berani mengatakan apa adanya, tanpa ditutup-tutupi, ditambah atau dikurangi. Kejujuran itu adalah indah.
Pembiasaan kedua, yaitu terbuka. Keterbukaan adalah karakter di mana seseorang terbuka, transparan dan tidak menutup-nutipi sesuatu untuk kepentingan tertentu. Adapun perwujudannya adalah dapat dengan pribadi yang bersikap adil, bersih, memiliki wawasan luas, serta terbuka terhadap perubahan dan masukan.
Pembiasaan ketiga adalah disiplin. Disiplin adalah sikap diri untuk selalu tepat waktu dan selalu mentaati aturan dengan kesadaran yang tinggi dan tanggung jawab.
Pembiasaan keempat adalah komitmen. Komitmen dalam bahasa sederhananya adalah memenuhi janji sesuai dengan hati nurani yang luhur. Orang yang mempu berkomitmen adalah orang yang dapat dipercaya, karena dirinya sudah memperlihatkan tanggung jawab, jujur dan dapat diandalkan.
Pembiasaan kelima adalah tanggung jawab (responsibility). Adalah kemampuan merespon atau ”ability to respon”, artinya memberikan perhatian kepada orang lain, dan memperhatikan kebutuhannya. Berbekal dengan kejujuran dan sikap terbuka, seseorang akan berani mengambil resiko dari setiap kata dan perbuatannya. Ia berani melakukan apa saja dengan penuh rasa tanggung jawab. Perwujudannya adalah pribadi yang tampil dalam sikap berani, (bukan nekat atau pengecut), tegar, sabar, dan bersih diri.
Pembiasaan keenam adalah menghargai atau menghormati (respect), menghormati adalah sikap yang menunjukkan penghargaan terhadap orang lain atau sesuatu. Ada tiga jenis rasa hormat yakni hormat pada diri sendiri, hormat pada orang lain, dan hormat pada segala bentuk kehidupan dan lingkungan. Sementara tanggung jawab adalah perluasan dari rasat hormat.
Dan pembiasaan ketujuh adalah Berbagi (share), di dasari oleh empati yang tinggi maka sikap berbagi adalah suatu sikap seseorang yang selalu mau berbagi dalam hal apasaja terhadap orang lain yang membutuhkan.
Paul Siregar
November 23, 2015
CB Blogger
Indonesia
Pendahuluan
Matematika adalah ilmu dasar untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia. Suherman (1992: 134) mengatakan bahwa matematika bermanfaat untuk mempersiapkan seseorang untuk sanggup menghadapi kehidupan yang senantiasa berubah, melalui latihan berpikir logis dan rasional, kritis, cermat, objektif, kreatif, efektif, dan diperhitungkan secara analitis sintesis. Untuk anak sekolah dasar, matematika penting untuk diberikan karena pada tingkat dasar anak menguasai konsep matematika yang kemudian akan digunakan pada tingkat lanjut.
Matematika adalah ilmu dasar untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia. Suherman (1992: 134) mengatakan bahwa matematika bermanfaat untuk mempersiapkan seseorang untuk sanggup menghadapi kehidupan yang senantiasa berubah, melalui latihan berpikir logis dan rasional, kritis, cermat, objektif, kreatif, efektif, dan diperhitungkan secara analitis sintesis. Untuk anak sekolah dasar, matematika penting untuk diberikan karena pada tingkat dasar anak menguasai konsep matematika yang kemudian akan digunakan pada tingkat lanjut.
Namun pada kenyataannya, anak sekolah dasar di tempat peneliti melakukan penelitian tidak menyukai mata pelajaran matematika karena alasan tertentu. Berdasarkan hasil wawancara singkat peneliti dengan beberapa anak, mereka mengatakan bahwa matematika itu susah, rumit, memusingkan dan perlu jalan yang panjang untuk menyelesaikannya, cara guru mengajar, dan tekanan yang diberikan orang tua dan guru dalam bentuk hukuman juga menjadi penyebab ketidaksukaan anak terhadap mata pelajaran matematika Mengingat matematika adalah materi yang sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari maka perlu untuk menumbuhkan minat dan motivasi anak belajar matematika agar menghasilkan nilai akademis yang baik. Pada kenyataa nnya, rata-rata anak tidak menyukai matematika hal ini ditegaskan dalam sebuah penelitian oleh Harwell (1982:184) mengatakan bahwa sepertujuh atau 14,3% siswa sekolah dasar mengalami masalah dalam bidang studi matematika.
Sejak 1993 tiga ahli neurobiologi Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap musik Mozart dan pengaruhnya terhadap kecerdasan. Penelitian ini membuktikan bahwa IQ sekelompok mahasiswa meningkat 8 sampai 9 tingkat dalam kemampuan spasial setelah mendengar musik Mozart selama 15 menit (Kompas.1993:9). Kemampuan spasial merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan untuk bermatematika. Tahun 1997,empat tahun setelah penelitian sebelumnya,Campbell (2002: 218), seorang pendidik terkemuka di dunia dalam bidang musik dan penyembuhan, menge luarkan buku yang membahas hubungan musik dengan kecerdasan. Hasil penelitian ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia terutama bagi pendidikan. Dari penelitian tersebut mulai banyak sekolah dan rumah sakit menggunakan musik sebagai musik latar dalam mengiringi setiap aktivitas.
Ada hubungan yang sangat erat antara musik dan matematika (Gunawan, 1998: 34). Jika musik terdiri dari ketukan, irama dan nada, maka matematika adalah sebuah angka. Dalam menciptakan musik, komponen yang harus ada adalah ketukan, irama dan nada. Sama halnya dengan matematika. Angka adalah matematika dan matematika adalah angka. Jika musik dapat melatih otak untuk melakukan pemikiran yang rumit, meningkatkan konsentrasi, dan menciptakan ketenangan, maka matematika memerlukan konsentrasi yang penuh untuk memecahkan persoalan yang rumit. Hal ini berarti musik dapat membantu anak meningkatkan konsentrasi dan kondisi tubuh yang lebih baik dalam mengerjakan
matematika.
matematika.
Untuk dapat menciptakan karya musik perlu kemampuan kognitif. Matematika juga berhubungan dengan fungsi kognitif. Hal ini berarti bahwa proses mencipta musik dan matematika sama-sama membutuhkan dan menggunakan kemampuan kognitif. Musik dapat meningkatkan keadaan tubuh seseorang menjadi santai. Matematika membutuhkan tubuh yang santai untuk dapat menyelesaikan matematika. Dengan demikian untuk dapat bermatematika salah satu caranya adalah dengan kondisi tubuh yang santai sehingga otak mampu mencerna dengan baik. Mendengarkan musik dapat mencapai kondisi yang demikian.
Matematika dalam bahasa Yunani berasal dari kata mathematike.Dalam Suherman (1992:119), mathematike
memiliki akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, dan mathanein yang berartibelajar (berpikir). Secara etimologis, matematika memiliki arti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. Dari definisi tersebut maka matematika adalah pengetahuan yang diperoleh dari belajar dan berpikir (bernalar). Dari gabungan pengertian ini pula disampaikan,bahwa menurut Deighton (1971:81) matematika adalah sistem belajar abstrak yang membangun dasar yang abstrak. Untuk mencapai tahap yang abstrak, seseorang harus dapat memahami konsep abstrak melalui proses belajar dari benda-benda konkrit, faktor kesiapan belajar dan perkembangan tahap berpikir manusia
Brewer (1992: 284) mengatakan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan tentang bilangan dan operasinya. Berdasarkan pengertian ini matematika memiliki sasaran utama yaitu bilangan dan hubungan antar bilangan.Pengetahuan tentang bilangan ini mencakup yaitu keahlian dalam membilang bilangan, membaca bilangan, konsep dalam bilangan, pengoperasian bilangan dari yang sederhana sampai ke yang sulit, dan lain sebagainya.
Paling (1982:2) juga mengatakan bahwa matematika berperan untuk memecahkan masalah yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Kecenderungan manusia untuk mempertahankan hidup sebagai sifat manusiawi adalah salah satu faktor yang memunculkan definisi ini. Permasalahan kehidupan tersebut diselesaikan dengan cara logis, analisis, sistematis, jelas, dapat dideteksi, dan diramalkan.
Matematika untuk anak usia dini memiliki pengertian yang lebih sederhana yaitu mencakup bagaimana cara anak memandang dunia, memecahkan masalah, mengerti bilangan, dan operasi bilangan, fungsi dan relasi, kemu ngkinan dan ukuran, bekerja sama dalam kelompok, memisahkan objek dan membuat perbandingan. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Fehr dalam Spodek (1978:155) yang mengatakan bahwa matematika untuk sekolah dasar adalah belajar bilangan dan bentuk, menghubungkan dua pikiran melalui penggunaan ukuran dalam konsep matematika, prosedur perhitungan, dan pemecahan masalah. Berdasarkan pernyataan tersebut anak sekolah dasar sudah mulai diajarkan untuk menganalisis dan menggunakan logika dalam menghubungkan konsep-konsep.
Demikian pula dengan standar kompetensi kelas 1 yang terdapat dalam kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tahun 2004 (2003:121). Adapun kompetensi matematika yang diharapkan muncul pada anak kelas 1 sekolah dasar yaitu:
- Kemahiran dalam menggunakan notasi dan simbol dalam mengungkapkan pernyataan atau gagasan,
- kemahiran dalam merancang dan melakukan proses penyelesaian masalah dengan memilih atau menggunakan suatu strategi, dan
- menghargai matematika sebagai suatu yang berguna dan bermanfaat dalam kehidupan.
Seluruh standar kompetensi tersebut dijabarkan dalam bentuk indikator. Indikator setiap kompetensi mencangkup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Aspek-aspek tersebut merupakan penilaian dalam proses belajar mengajar. Kemahiran matematika anak sekolah dasar kelas 1 terintegrasi dalam sub bab atau pokok bahasan. Berikut ini pokok bahasan tersebut : bilangan, geometri, dan pengukuran.
Dengan demikian, matematika untuk anak kelas 1 sekolah dasar adalah belajar tentang bentuk, pengukuran, bilangan, konsep bilangan, dan pengoperasiannya. Kemampuan tersebut dapat dilihat melalui indikator hasil belajar yang diambil dari kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004. Sedangkan hasil belajarnya terlihat dalam tiga aspek yaitu kognitf, afektif, dan psikomotor. Penilaian hasil belajar dinilai pada waktu proses dan produk.
Musik menurut Schindler (1980:10) adalah “either something that simply washes over us or a means of expression we actively participate in with heart, mind, and soul”.Dari pengetian di atas, dalam sebuah musik terdapat perpaduan hati, pikiran dan jiwa yang tercipta dalam sebuah karya seni. Tidak hanya pencipta seni yang merasakan perpaduan tersebut namun orang yang menikmati seni juga ikut merasakannya. Pengertian lain dari Grolier Academic Encyclopedia (1983: 453) yaitu “ music is the art of arranging sounds in rhythmic succession and generally in combination”. Musik menjadi rangkaian nada-nada dan ritmik yang disusun secara teratur dan harmonis. Keteraturan tersebut membuat pendeng ar menikmati musik. Jika suara tersebut berasal dari alat musik maka musik tersebut disebut sebagai musik intrumental. Namun jika dilengkapi dengan vokal manusia maka dinamakan musik vokal.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat dideskripsikan bahwa musik instrumental adalah rangkaian nada-nada dari suara yang disusun sedemikian rupa dan dikombinasikan dari berbagai sumber suara yang diambil dari satu alat musik atau lebih tanpa ada vokal, yang melibatkan hati, jiwa, dan pikiran baik bagi para
pendengar atau pemain musik itu sendiri.
pendengar atau pemain musik itu sendiri.
Musik instrumental yang digunakan dalam penelitian ini adalah musik klasik. Musik tersebut digunakan untuk menenangkan dan memberi energi bagi tubuh atau pikiran. Musik yang menenangkan yaitu musik karya Eric Daub dalam Pianoforte, karya Gluck dalam Dance of the lessed spirit, relax with the classics, karya Mozart dalam piano concerto no.21, karya Pachelbel dalam canon and other baroque favorites, karya Gerwig dalam
the barouque lute, dan karya Bach dalam air on a G String.Musik instrumental yang digunakan untuk memberi energi pada tubuh dan pikiran adalah musik karya Handel dalam water music, karya Bach dalam suites for orchestra, karya Mozart dalam concerto for two pianos (K.365).
the barouque lute, dan karya Bach dalam air on a G String.Musik instrumental yang digunakan untuk memberi energi pada tubuh dan pikiran adalah musik karya Handel dalam water music, karya Bach dalam suites for orchestra, karya Mozart dalam concerto for two pianos (K.365).
Metode Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian musik instrumental terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 03 Pagi yang terletak di Kampung Dukuh, Jakarta Timur dengan waktu pelaksanaan bulan November sampai Desember 2004. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen mengingat tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji hipotesis yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian musik instrumental terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian musik instrumental terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 03 Pagi yang terletak di Kampung Dukuh, Jakarta Timur dengan waktu pelaksanaan bulan November sampai Desember 2004. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen mengingat tujuan penelitian ini yaitu untuk menguji hipotesis yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara pemberian musik instrumental terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar.
Menurut Kountur (2004; 116), penelitian eksperimen adalah penelitian dimana ada perlakuan (treatment) dari variabel bebas. Adapun variabel bebas dari penelitian ini adalah musik instrumental dan variabel terikat adalah hasil belajar matematika. Desain eksperimen dalam penelitian ini adalah pretest-posttest-equivalent-group design.Desain ini mengelompokkan sampel dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen terdiri dari 22 orang. Kelompok ini diberi perlakuan berupa musik instrumental sebagai latar belakang suara dalam kegiatan belajar mengajar matematika. Kelompok kontrol melakukan pembelajaran matematika dengan sistem konvensional. Kelompok kontrol terdiri dari 16 orang.
Kegiatan pra penelitian dilakukan dengan memberi pretest untuk melihat kehomogen dan kenormalan pada kedua kelompok tersebut. Perlakuan dilakukan setelah masing-masing kelompok telah menunjukkan karakteristik rata-rata yang sama. Untuk mengontrol agar perlakuan tidak bias, maka kondisi yang mempengaruhi hasil belajar matematika diusahakan sama dan berada pada titik nol. Adapun kondisi tersebut antara lain; kesamaan materi pelajaran, kesamaan waktu, media yang digunakan, metode mengajar, dan guru. Pembeda dalam masing-masing kelompok yaitu pemberian musik instrumental.
Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster rendom sampling karena sampel diambil dari sebagian atau seluruh dari setiap elemen yang terpilih untuk dijadikan sampel. Dengan jumlah siswa kelas kontrol 16 orang dan kelas eksperimen berjumlah 22 orang.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes. Tes dilakukan sebelum dan sesudah pemberian perlakuan. Tes dibuat dalam bentuk instrumen penelitian. Instrumen tersebut kemudian diujicobakan terlebih dahulu untuk menguji validitas, reliabilitas dan tingkat kesukaran. Instrumen yang valid berjumlah 21 dari 25 soal. Uji validitas menggunakan content validity menggunakan rumus korelasi point biserial karena item-item instrumen mengacu pada kurikulum.Uji reliabilitas menggunakan rumus Kuder Rrichardson Number 20 (KR 20). Rumus ini dipilih karena instrumen terdiri atas dua jawaban benar atau salah (dikotomi).Jika jawaban benar maka bernilai 1 dan jika salah bernilai 0.
Tingkat valid dan reliabel tes belum cukup untuk memberikan informasi tentang kondisi item instrumen. Instrumen harus dianalisis dalam analisis item. Salah satu caranya adalah dengan tes tingkat kesukaran. Adapun manfaatnya adalah tes dapat mengungkapkan kelemahan dan kelebihan individu dalam bidang tertentu dengan membedakan subjek yang berkemampuan tinggi, sedang, dan kurang sehingga tes memiliki kemampuan diagnostik. Berdasarkan tes menggunakan rumus indeks proporsi maka diperoleh 14,29% item berisi butir soal mudah, 38,10% butir soal sedang atau cukup dan 47,6 % butir soal sukar.
Teknik analisis data dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah pengolahan data awal untuk mencari rata-rata, median, modus, simpangan baku, nilai maksimum, dan nilai minimum. Tahap kedua dilakukan pengujian persyaratan analisis yakni uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk menguji normalitas sampel penelitian sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Pengujian ini dilakukan dengan uji Liliefors. Uji homogenitas dilakukan untuk melihat homogen atau tidaknya sampel dari kelompok penelitian. Pengujian homogenitas diperoleh dari perbandingan kuadrat simpangan baku (varian) terbesar dan terkecil menggunakan uji Fisher. Tahap ketiga, dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan pengujian perbedaan dua rata-rata yakni dengan uji-t. Pengujian dilakukan pada taraf signifikasi α =0,05. Hipotesis alternatif di tolak jika tehitung < tabel yaitu tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan musik instrumental terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar. Sebaliknya hipotesis alternatif diterima jika tehitung ≥ tabel yaitu ada pengaruh yang signifikan penggunaan musik instrumentasi terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar.
Hasil dan Pembahasan
Pada katub pemikiran, siswa belajar melalui pemikiran dan lebih fokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi, mengumpulkan dan memproses informasi untuk membentuk konsep-konsep yang pada dasarnya bebas dari emosi dan perasaan. Kutub pemikiran merupakan kutub kebalikan dari pengalaman konkret. Kutub pengamatan, siswa belajar melalui pengamatan, mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Ujung kutub pengamatan adalah kutub tindakan. Pada kutub tindakan, siswa belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya, menuntut tindakan dan cara refleks memulainya.
Tipe ketiga yaitu convergen. Tipe ini adalah tipe gabungan pemikiran dan tindakan. Ciri siswa pada tipe ini yaitu melakukan perencanaan sistematis dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan lebih menghargai keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan, cenderung belajar dengan cepat dan dalam waktu singkat karena tidak sabar menunggu instruksi, banyak melakukan gerakan fisik, dan banyak belajar melalui praktek langsung. Tipe terakhir yaitu akomodator. Tipe ini adalah tipe gabungan antara kutub tindakan dan perasaan.Pada saat belajar, siswa lebih menyukai kebebasan dan cenderung untuk mengubah apapun yang diinginkan, cenderung untuk belajar dengan cara sendiri, tidak memperhatikan orang lain, kurang disiplin, menyukai pengalaman baru dan menantang, bertindak dengan dorongan hati, dan memecahkan masalah dengan mempertimbangkan manusia untuk mendapatkan informasi.
Berdasarkan data yang telah dianalisis dan telah di uji dengan rumus uji, maka diperoleh nilai tehitung adalah 0,50 lebih kecil dari tabel yaitu 1,68. berarti bahwa tidak terdapat pengaruh hasil belajar matematika antara siswa yang menggunakan musik instrumental dengan siswa yang belajar tanpa musik instrumental. Tidak berhasilnya penelitian ini membuktikan hipotesis mengingat beberapa faktor yang muncul selama penelitian ini dilaksanakan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah gaya belajar, masa adaptasi budaya belajar, teknis pelaksanaan penelitian berkaitan dengan keterbatasan lingkungan sekolah dan kelas tempat penelitian.
Gaya belajar menurut Kolb dalam Samples (2002:147) terbagi atas empat kuadran. Setiap kaudran merupakan kombinasi dari dua kutub. Kutub-kutub tersebut adalah kutub perasaan (pengalaman konkret), pemikiran (konseptual abstrak), pengamatan (pengamatan reflektif) dan tindakan (eksperimen aktif). Pada kutub perasaan, siswa belajar melalui perasaan,menekankan pada pengalaman konkret, mementingkan relasi, dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain, mempunyai kualitas peraba dan perasa yang kuat, mempunyai banyak pengalaman inderawi yang dipengaruhi emosi.
Pada katub pemikiran, siswa belajar melalui pemikiran dan lebih fokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi, mengumpulkan dan memproses informasi untuk membentuk konsep-konsep yang pada dasarnya bebas dari emosi dan perasaan. Kutub pemikiran merupakan kutub kebalikan dari pengalaman konkret. Kutub pengamatan, siswa belajar melalui pengamatan, mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Ujung kutub pengamatan adalah kutub tindakan. Pada kutub tindakan, siswa belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya, menuntut tindakan dan cara refleks memulainya.
Dari empat kutub tersebut maka Kolb membaginya menjadi empat tipe belajar. Setiap tipe belajar merupakan gabungan antara dua kutub. Tipe yang pertama adalah tipe divergen. Tipe ini merupakan gabungan dari kutub perasaan dan pengamatan. Pada tipe ini siswa dalam proses belajar mengajar menunjukkan sikap terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapi dan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini atau pendapat. Tipe kedua yaitu asimilator. Tipe ini adalah tipe gabungan antara kutub pengamatan dan pemikiran. Siswa dalam tipe ini lebih mengandalkan perencanaan sistematis, mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan menggunakan pikiran untuk membentuk pendapat, cenderung belajar dengan konsep yang abstrak, berusaha keras untuk menghasilkan nilai yang tinggi, sangat detail, tekun, teliti, rapi, teratur, dan mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual.
Tipe ketiga yaitu convergen. Tipe ini adalah tipe gabungan pemikiran dan tindakan. Ciri siswa pada tipe ini yaitu melakukan perencanaan sistematis dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan lebih menghargai keberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan, cenderung belajar dengan cepat dan dalam waktu singkat karena tidak sabar menunggu instruksi, banyak melakukan gerakan fisik, dan banyak belajar melalui praktek langsung. Tipe terakhir yaitu akomodator. Tipe ini adalah tipe gabungan antara kutub tindakan dan perasaan.Pada saat belajar, siswa lebih menyukai kebebasan dan cenderung untuk mengubah apapun yang diinginkan, cenderung untuk belajar dengan cara sendiri, tidak memperhatikan orang lain, kurang disiplin, menyukai pengalaman baru dan menantang, bertindak dengan dorongan hati, dan memecahkan masalah dengan mempertimbangkan manusia untuk mendapatkan informasi.
Tipe-tipe tersebut dimiliki oleh siswa dalam penelitian ini. Diduga berdasarkan kriteria dalam setiap tipe belajar tersebut, siswa yang menyukai kegiatan belajar mengajar dengan diiringi musik instrumental adalah siswa dengan tipe belajar divergen dan akomodator. Oleh karena itu, dapat dinyatakan bahwa keragaman siswa dalam gaya belajar perlu diakui sebagai keunikan dan pengakuan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, perlakuan guru terhadap siswa perlu disesuaikaan berdasarkan gaya belajar masing-masing.
Meskipun demikian gaya belajar menggunakan musik instrumental sebagai pengiring dalam belajar dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi anak jika sudah menjadi kebiasaan. Adapun latar belakang budaya sampel penelitian tidak terbiasa mendengarkan musik instrumental terkhusus musik klasik. Penggunaan musik instrumental masih menjadi hal yang baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini diduga dapat mempengaruhi tidak diterimanya hipotesis penelitian.
Faktor teknis pelaksanaan penelitian meliputi kurang maksimalnya peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam penelitian. Media audio kurangmaksimal karena pengadaan dilakukan sendiri oleh peneliti. Kondisi ruangan yang tidak kedap suara berukuran 8 X 10 meter,dan lingkungan sekolah tidak kondusifuntuk belajar karena berada dipinggir jalan. Dengan demikian ketika penelitian ini dilakukan peneliti tidak mampu mengontrol kondisi sekolah yang sudah terbentuk secara alami. Hal ini menyebabkan penelitian ini tidak dapat dilakukan secara maksimal.
Oleh karena itu, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yaitu penelitian ini hanya terbatas melihat kemampuan hasil belajar matematika siswa pada ranah kognitif saja tanpa melihat ranah lain, penelitian hanya berlaku untuk populasi yang memiliki karakteristik yang sama, pemilihan sampel tanpa melihat karakteristik gaya belajar siswa karena dilakukan secara klasikal, situasi dan kondisi yang kurang kondusif karena ruang tidak kedap suara, masa adaptasi yang cukup lama tidak sesuai dengan target pencapaian yang ditetapkan sebagai sub pokok bahasan matematika, dan peralatan serta pelengkapan yang tidak maksimal.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis diperoleh thitung = 0,50 lebih kecil dari ttabel yaitu 1,68 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini tidak berhasil membuktikan hipotesis bahwa musik instrumental berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar. Hal ini terjadi disebabkan beberapa faktor yaitu perbedaan tipe atau gaya belajar siswa, masa adaptasi siswa yang berkaitan dengan budaya belajar ketika menggunakan musik instrumental, dan teknis pelaksanaan penelitian terkait dengan keterbatasan peralatan, situasi kondisi kelas dan lingkungan sekolah yang kurang kondusif.
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis diperoleh thitung = 0,50 lebih kecil dari ttabel yaitu 1,68 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian ini tidak berhasil membuktikan hipotesis bahwa musik instrumental berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas 1 sekolah dasar. Hal ini terjadi disebabkan beberapa faktor yaitu perbedaan tipe atau gaya belajar siswa, masa adaptasi siswa yang berkaitan dengan budaya belajar ketika menggunakan musik instrumental, dan teknis pelaksanaan penelitian terkait dengan keterbatasan peralatan, situasi kondisi kelas dan lingkungan sekolah yang kurang kondusif.
Adapun upaya yang harus dilakukan agar penelitian ini dapat membuktikan hipotesis adalah dengan memilih sampel sesuai dengan karakteristik siswa yang memiliki tipe belajar divergen dan akomodator, waktu penelitian diperpanjang selama dua semester untuk membentuk kebiasaan dan memberi kesempatan pada anak beradaptasi pada lingkungan belajar yang lebih menyenangkan, memilih sekolah dengan dilengkapi oleh fasilitas pengeras suara disetiap kelas dan kondusif untuk melakukan penelitian in
Mekanisme Pengumpulan, Pengklasifikasian, Pedokumentasian dan Pelayanan Informasi ;
Dalam rangka pelayanan informasi yang akurat, lengkap dan tidak
menyesatkan, maka seluruh satuan kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi
dan Informatika perlu melakukan pengelolaan informasi secara baik, konsisten
dan bertanggungjawab melalui kegiatan yang meliputi :
- Pengumpulan informasi;
- Pengklasifikasian informasi;
- Pendokumentasian informasi, dan
- Pelayanan informasi.
PENGUMPULAN INFORMASI
Kegiatan pengumpulan informasi merupakan tahap yang sangat penting
dalam pengelolaan informasi dan dokumentasi. Beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh setiap satuan kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi
dan Informatika, adalah :
1. Pengumpulan informasi merupakan aktivitas penghimpunan kegiatan
yang telah, sedang dan yang akan dilaksanakan oleh setiap satuan
kerja.
2. Informasi yang dikumpulkan adalah informasi yang berkualitas dan
relevan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing satuan kerja;
3. Informasi yang dikumpulkan dapat bersumber dari pejabat dan arsip,
baik arsip statis maupun dinamis;
4. Pejabat sebagaimana dimaksud dalam butir 3 merupakan pejabat yang
bertanggung jawab dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi di
satuan kerjanya; sedangkan arsip statis dan dinamis merupakan arsip yang terkait dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi satuan kerja
bersangkutan.
5. Penyediaan informasi dilaksanakan dengan memperhatikan tahapan
sebagai berikut :
a. Mengenali tugas pokok dan fungsi satuan kerjanya;
b. Mendata kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan kerja;
c. Mendata informasi dan dokumen yang dihasilkan;
d. Membuat daftar jenis-jenis informasi dan dokumen.
b. Mendata kegiatan yang dilaksanakan oleh satuan kerja;
c. Mendata informasi dan dokumen yang dihasilkan;
d. Membuat daftar jenis-jenis informasi dan dokumen.
6. Alur dan Mekanisme Pengumpulan Informasi
Alur informasi dalam rangka proses pengumpulan informasi yang berada
disetiap satuan kerja di lingkungan Kementerian Komunikasi dan
Informartika, divisualkan dalam bagan sebagai berikut :
Alur informasi sebagaimana digambarkan dalam bagan tersebut diatas, menunjukkan bahwa :
- Setiap informasi di unit kerja eselon satu merupakan tanggung jawab pimpinan unit.
- Setiap informasi yang dikelola oleh eselon satu merupakan satu kesatuan informasi dari masing-masing satuan kerja dibawahnya
- Setiap informasi publik di unit eselon satu di sampaikan ke PPID melalui Pusat Data.
- Setiap informasi yang diterima oleh Pusat Data diolah dan disediakan untuk kepentingan pelayan informasi yang dilakukan oleh PPID.
Mekanisme pengumpulan informasi di masing-masing satuan kerja eselon 2 (dua) dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut :
Mekanisme pengumpulan informasi sebagaimana bagan tersebut di atas adalah :
1. Setiap pimpinan unit eselon satu menugaskan para sekretarisnya atau pejabat yang ditunjuk, untuk melaksanakan pengumpulan informasi di setiap satuan kerja eselon 2 ( Direktorat atau Pusat ), dilingkungan kerja unit seleon 1 ( satunya );
2. Setiap pimpinan satuan kerja eselon 2 ( dua ) wajib melaksanakan pengumpulan, pendokumentasian dan pengklasifikasian informasi pelaksanaan kegiatan tupoksinya baik yang sudah, sedang maupun yang akan dilaksanakan (SOP nya seperti pada gambar dibawah);
3. Setiap pejabat harus membuat catatan pelaksanaan kegiatan dan mendokumentasikannya secara baik ( secara elektronik maupun non elektronik ) dan selanjutnya disampaikan kepada sekretaris Ditjen/Badan;
4. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas pengumpulan, pendokumentasian dan pengklasifikasian informasi, setiap satuan kerja ( setditjen/badan, direktorat, Pusat dan Biro ) dapat menunjuk pejabat fungsional pengelola informasi dan dokumentasi (pranata humas, pranata computer, arsiparis, pustakawan, dsb ) sesuai dengan kebutuan satuan kerjanya;
5. Mekanisme pengumpulan informasi jalur merah ( 1 ) merupakan jalur koordinasi proses pengumpulan informasi dari Sekretaris Ditjen/Badan kepada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi melalui Pusat Data;
6. Mekanisme pengumpulan informasi jalur merah ( 2 ) merupakan jalur koordinasi proses pengumpulan informasi dari direktorat/pusat/biro ke sekretaris Ditjen/Badan;
7. Informasi yang dikumpulkan melalui jalur merah adalah informasi terkait dengan :
1. Setiap pimpinan unit eselon satu menugaskan para sekretarisnya atau pejabat yang ditunjuk, untuk melaksanakan pengumpulan informasi di setiap satuan kerja eselon 2 ( Direktorat atau Pusat ), dilingkungan kerja unit seleon 1 ( satunya );
2. Setiap pimpinan satuan kerja eselon 2 ( dua ) wajib melaksanakan pengumpulan, pendokumentasian dan pengklasifikasian informasi pelaksanaan kegiatan tupoksinya baik yang sudah, sedang maupun yang akan dilaksanakan (SOP nya seperti pada gambar dibawah);
3. Setiap pejabat harus membuat catatan pelaksanaan kegiatan dan mendokumentasikannya secara baik ( secara elektronik maupun non elektronik ) dan selanjutnya disampaikan kepada sekretaris Ditjen/Badan;
4. Dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas pengumpulan, pendokumentasian dan pengklasifikasian informasi, setiap satuan kerja ( setditjen/badan, direktorat, Pusat dan Biro ) dapat menunjuk pejabat fungsional pengelola informasi dan dokumentasi (pranata humas, pranata computer, arsiparis, pustakawan, dsb ) sesuai dengan kebutuan satuan kerjanya;
5. Mekanisme pengumpulan informasi jalur merah ( 1 ) merupakan jalur koordinasi proses pengumpulan informasi dari Sekretaris Ditjen/Badan kepada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi melalui Pusat Data;
6. Mekanisme pengumpulan informasi jalur merah ( 2 ) merupakan jalur koordinasi proses pengumpulan informasi dari direktorat/pusat/biro ke sekretaris Ditjen/Badan;
7. Informasi yang dikumpulkan melalui jalur merah adalah informasi terkait dengan :
- Informasi yang tersedia setiap saat
- Informasi yang wajib diumumkan secara serta merta;
- Informasi lain yang dikuasainya
- Informasi yang masuk kategori dikecualikan
8. Mekanisme pengumpulan informasi jalur kuning merupakan jalur koordinasi proses pengumpulan informasi dari direktorat/pusat/biro ke Biro Perencanaan/Biro Keuangan/Biro Kepegawaian dan Organisasi/Biro ukum dan KLN, terhadap informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala.
Diagram Alur Pengumpulan Informasi
PENGKLASIFIKASIAN INFORMASI
Dalam proses pengklasifikasian, informasi di bagi menjadi dua kelompok yaitu informasi yang bersifat publik dan informasi yang dikecualikan.
1. Mengelompokkan informasi yang bersifat publik
Informasi yang bersifat publik dikelompokkan berdasarkan subyek informasi sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan kegiatan setiap satuan kerja. Pengelompokan informasi yang bersifat publik meliputi:
a. Informasi publik yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala meliputi:
- Informasi yang berkaitan dengan Depkominfo;
- Informasi mengenai kegiatan dan kinerja Depkominfo;
- Informasi mengenai laporan keuangan; dan/atau
- Informasi lain yang diatur dalam peraturan perundangundangan;
- Informasi yang lebih detail atas permintaan pemohon.
Pengumpulan informasi publik butir 1 s/d 5 di atas dilakukan oleh masing-masing Sekretaris Ditjen/Badan berkoordinasi dengan para Kepala Biro yang mempunyai wewenang sesuai tupoksinya dalam pengelolaan informasi yang wajib disediakan dan diumumkan secara berkala sebagaimana butir 1 s/d 5 tersebut di atas(secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1).
b. Informasi publik yang wajib diumumkan secara serta merta, yaitu informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum (secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2);
c. Informasi publik yang wajib tersedia setiap saat di Kementerian Komunikasi dan Informatika meliputi :
- Daftar seluruh informasi publik yang berada di bawah penguasaannya, tidak termasuk informasi yang dikecualikan;
- Hasil keputusan Pimpinan Kementerian Komunikasi dan Informatika dan latar belakang pertimbangannya;
- Seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya;
- Rencana kerja program/kegiatan termasuk di dalamnya perkiraan pengeluaran tahunan Kementerian Komunikasi dan Informatika;
- Perjanjian Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan pihak ketiga;
- Informasi dan kebijakan yang disampaikan Pejabat Publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum;
- Prosedur kerja pegawai Kementerian Komunikasi dan Informatika yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat; dan/atau
- Laporan mengenai pelayanan akses informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Mengelompokkan informasi yang dikecualikan
Dalam mengelompokkan informasi yang dikecualikan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Informasi yang dikecualikan adalah informasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 Pasal 17 dan Pasal 18;
2. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelompokan informasi yang dikecualikan:
2. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelompokan informasi yang dikecualikan:
- Ketat, artinya untuk mengategorikan informasi yang dikecualikan harus benar-benar mengacu pada metode yang valid dan mengedepankan obyektivitas;
- Terbatas, artinya informasi yang dikecualikan harus terbatas pada informasi tertentu untuk menghindari penafsiran yang subyektif dan kesewenangan;
3. Tidak mutlak, artinya tidak ada informasi yang secara mutlak dikecualikan ketika kepentingan publik yang lebih besar menghendakinya.
Paul Siregar
November 14, 2015
CB Blogger
Indonesia
















